Berbagi Mimpi (versi suka-suka)

Versi suka-suka tulisan sahaya, Wawan, seorang blogger full time di Berbagi Mimpi, penerjemah, dan mahasiswa. Sistem kerja saya adalah dialektika ini: Karena mikir (=kepikiran) membikin ngantuk, saya pun ngomong, tapi karena saat ngomong saya cenderung jadi nggak mikir, maka saya pun menulis. Saya bikin indomie buat ngrayu istri, dan bikin spaghetti buat ngrayu anak.

About Me  

Anak-anak dari Seribu Pulau (sebenarnya cuma 3 pulau plus Vietnam) bersepeda sore di jalur olahraga Fayetteville Urban Trail (Scull Creek Trail dan Mud Creek Trail) dan trail olahraga di sekeliling Lake Fayetteville (4 mil jalan beraspal dan 1 mil jalur alam, bertanah, berbatu, berakar pohon, berlain-lain).

Tentang soundtrack dalam film-film Quentin Tarantino. Wawancara dengan Cak Misdi.

Buat yang Butuh Klip2 Film 

Kalau Anda adalah seorang pembuat film, peresensi, guru atau dosen yang seringkali butuh klip-klip film untuk kebutuhan hobi atau profesi Anda, inilah channel youtube yang mungkin akan sangat berguna buat Anda semua. Di sini, Anda bisa mendapatkan klip-klip HD untuk film-film yang bisa dibilang kanon dalam sinema internasional.

Review: “iPod” Cina yang Kritis

Di rumah saya punya iPod China. Bentuknya mirip iPod Nano. Ceritanya, dulu ada teman di Indonesia minta dibelikan iPod China yang harganya murah banget, beberapa belas dolar kalau nggak salah, dengan kapasitas memori 8 GB. Karena tertarik super murahnya itu, saya pun ikut beli. (Moral cerita: jangan beli sesuatu hanya karena murahnya, belilah karena butuhnya!!!)

Waktu saya coba, ternyata sangat menyebalkan. Kalau mic-nya dimasukkan penuh, yang kedengaran cuma satu earphone saja. Kita baru bisa dengar suaranya kalau jack earphonenya kita colokkan “anggang-anggang,” atau antara nancep dan lepas. Nah, dalam keadaan kritis inilah kita baru merasakan kenikmatan suaranya. Tapi, bukankah kondisi kritis ini (seperti namanya) sangat mudah lepas, sangat “volatile,” dan dampaknya sangat mudah bikin marah. 

Bayangkan, saat Anda mendengarkan iPhone sambil belajar dan tiba-tiba jack yang “anggang-anggang” itu tadi lepas. Apa nggak sumpek sampean? Tentu karena ini saya nggak berani-berani bermimpi membelikannya tali buat masang di lengan (biar kalau lari-lari sambil tetap dengar musik… btw, saya nggak pernah kok lari-lari sambil dengar musik seumur-umur, lha wong lari-lari saja seumur hidup paling juga dua tiga kali.)

Saking gregetannya, saya pun memberanikan diri melepas sekrup di bagian belakang, untuk mengetahui apa yang menyebabkan prilaku menyebalkan pada jack earphone-nya itu. Maka saya buka, ternyata konstruksinya sederhana sekali. Cuman LCD, solid state drive, sirkuit dan beberapa tahanan atau elco atau apalah itu. Saya jadi salah tingkat sendiri. Bagaimana tidak, dengan konstruksi yg sesederhana ini saja bisa ada masalah? Terus mau saya bagaimanakah lagi? 

Akhirnya, demi mengurangi potensi stress, saya kubur lah iPod Nano China itu dalam-dalam di laci. Berbulan-bulan saya tidak membuka lacinya. Baru waktu tiba saatnya pulang ke Indonesia dan harus mengemas barang-barang, saya tidak bisa membawa semua barang saya. Sebagian buku saya masukkan ke peti plastik seperempat meter kubik dan saya titipkan di rumah teman (dengan harapan bisa balik lagi suatu saat untuk menjemput buku-buku itu.) 

iPod Cina itu termasuk salah satu dari sedikit barang yang harus saya tinggal bersama buku-buku itu.

Baru setelah setahun kemudian saya ternyata berkesempatan balik lagi ke Arkansas, saya ketemu lagi dengan peti biru itu. Saya kaget waktu melihat iPod Nano hitam yang sangat cantik bersama dengan buku-buku saya. Baru saat itulah saya ingat pernah membeli sebuah iPod DAN DIBIKIN SEBAL SAMA DIA! 

Tapi, kali ini, saya yang sudah satu tahun lebih tua, dan telah merasakan beratnya hidup (hahahaha), jadi lebih bisa menghargai iPod Cina itu. Saya memutuskan akan bersikap lembut kepadanya, akan saya colokkan jack earphone saya secara “anggang-anggang.” Saya pun memasukkan lagu-lagu kecintaan saya ke memorinya yang seluas samudera itu.

Ternyata, saya ketemu satu lagi tabiat ganjilnya: memorinya sangat lemot, lemot dalam artian yang sesungguhnya. Saya masukkan lagu “cuma” 3 GB, berisi semua album original soundtrack kecintaan, plus beberapa lagu metal, dua album Eddie Veder, Frank Zappa, Johnny Cash, Queen, the Kominas, Fourplay, Avenged Sevenfold, Ridho Rhoma dll. Ternyata, masya allah, hampir lima menit proses transfer datanya berjalan, cuman 2 album yang masuk. 

Akhirnya, saya masukkanlah album demi album itu dengan sabar. Mungkin, setelah satu tahun cuti dari mengabdikan diri sebagai mp3 player, dia butuh latihan dulu, butuh peregangan dulu, biar otot-ototnya bisa bekerja dengan baik.

Tak apalah, akhirnya saya pun memindah lagu-lagu itu folder demi folder dengan sabar dan tumakninah…

(Saat ini saya sudah mulai mendengar “Warmness on the Soul,” lagu yang mungkin relatif “menye-menye” untuk ukuran band segarang A7X, tapi nggak tahu ya… seneng saja saya sama yg enak-enak di kuping, semacam sealiran sama “Maafkan Aku” dari Slang atau “Always”-nya Bon Jovi.)

Update: Kalau disuruh ngopi beberapa folder sekaligus, kecepatan transfernya bisa serendah 650 kbps. Tapi kalau diperintah transfer folder demi folder, kecepatan nulisnya bisa sampai 2,5 mbps. Hehehe… ganjil tho?

Kalau pingin lihat “potongan” pelakunya, silakan klik di sini.

malam kopi tubruk
aku sibak butir dan ruap madu
malam kopi tubruk
tak dibiarkannya aku mengantuk

More Information